DOSA BESAR KELUARGA KERAJAAN INGGRIS : KOLONIALISME, PERBUDAKAN, DAN RASISME

KECEHINTECH – Ketika menghembuskan napas terakhir pada 8 September 2022 lalu, Ratu Elizabeth II telah meninggalkan jejak kepemimpinan selama 70 tahun. Di usianya yang berhenti di angka 96, ia telah menyaksikan perdana menteri berganti hingga 15 kali, umat Katolik dipimpin 7 paus, dan warga dunia telah menikmati Olimpiade Musim Panas sebanyak 20 kali. Namun satu hal lainnya yang tak mungkin dilupakan adalah dosa keluarga kerajaan Inggris di masa yang telah lalu. Yah, hal inilah yang kemudian dikenang sebagai kolonialisme, perbudakan, hingga rasisme. Dan hal itulah yang akan kita bahas kali ini!.

Sejarah panjang mengenai statusnya sebagai negeri kerjakan berdasarkan Catatan sejarah mereka telah memerintah 400 juta orang pada tahun 1913 kemudian 5 tahun sebelum kelahiran Elizabeth 2 pada tahun 1921 kerajaan ini telah mengklaim sekitar seperempat daratan bumi gimana dari 194 negara di dunia hanya 22 diantaranya yang tidak diinvasi oleh Inggris Maka inilah yang membuat Inggris diklaim sebagai ke kaisaran terbesar di dalam sejarah.

Bahkan kesan yang masih terasa sampai sekarang berubah dan segalanya berganti ingatan kita masih akan terpaku pada negara persemakmuran disebut meneruskan hanya untuk menyatukan negara-negara bekas koloni Inggris dalam satu wadah yang ditandai dengan deklarasi London pada tahun 1947 kemudian berkata bahwa persemakmuran 3 memiliki dibangun di atas dasar dari semangat manusia persahabatan kesetiaan dan keinginan untuk kebebasan dan perdamaian seperti meminta maaf.

Setidaknya kini terdapat 56 negara anggota persemakmuran Inggris yang tersebar di Afrika Eropa Amerika Asia hingga Pasifik dengan total 2,5 miliar penduduk dari keseluruhan negara hanya 15 diantaranya yang menganggap raja dan ratu Inggris sebagai kepala negara mereka sementara kita hanya mengangkat raja atau Ratu hanya sebagai ketua persemakmuran.

Baca Juga :   Rahasia Dibalik Umur Panjang dan Sehat Orang Jepang

Penting untuk diingat bahwa Inggris merupakan negara dengan daerah jajahan terbanyak, karena itu koloni mereka praktis kehilangan hak mengatur diri sendiri yang mana kejadian ini berdampak pada banyaknya kasus penindasan ya dosa – dosa masa lalu itulah yang tentu saja menguntungkan Inggris.

Namun disisi lain merugikan pihak koloni satu diantaranya adalah kasus perbudakan sejarawan mengatakan kepada the garden, bahwa barbados adalah tempat melahirkan masyarakat budak Inggris dan yang paling dicari oleh elit penguasa Inggris mereka disebut memperkaya diri dari gula lewat perbudakan berupa tenaga kerja sekali pakai.

Ini sekaligus mengamankan kedudukan Inggris sebagai kekuatan kerajaan yang menyebabkan penderitaan yang tidak terhitung baru bisa menghapus Ratu Elizabeth sebagai kepala negara pada tahun 2021. Pangeran Charles yang waktu itu masih berstatus Pangeran mengakui kasus perbudakan tersebut ketika menghadiri upacara pelepasan Barbados dari persemakmuran.

Namun tidak meminta maaf yang ditinggalkan Inggris juga melekat pada peristiwa residensial School di Kanada ketika Pangeran Charles berkunjung ke Kanada pada Mei 2012 untuk mendesak 12 meminta maaf tidak hanya permintaan maaf sebagai representasi kerajaan memberi ganti rugi kepada para korban pemaksaan asimilasi dan genosida di sana namun sekali lagi permintaan tersebut tidak ditanggapi meski Pangeran Charles mengakui kekejaman proses sejarah tersebut.

Sakit hati terhadap kejahatan tentara kerajaan juga masih dirasakan orang-orang di Kenya sebagaimana dikutip dari pemberitaan di depan dan ribuan nanti adiknya mengklaim pasukan kolonial Inggris memperlakukan mereka secara tidak adil memperkosa serta menyiksa mereka dalam pemberontakan mau-mau pada 1951 sampai 1966 itu bahkan sempat ditahan di kan konsentrasi mengaku disiksa serta tidak luput dari pelecehan seksual.

Baca Juga :   Inilah Sejarah dan Fakta Menakjubkan Negara Kolombia

Menurut sejarawan sebanyak 20.000 orang tewas karena itu namun pengamat lain elkins menilai angka kematiannya dapat mencapai 100 ribu, sebenarnya pada tahun 2013 pemerintah Inggris yang dihasilkan oleh komisioner Christian telah mengakui dan meminta maaf atas tindakan Barbar negaranya karena itu termasuk memberikan kerugian atas permintaan yang dilakukan.

Namun tetap belum ada permintaan maaf di Jamaika juga menjadi zat kekejaman Inggris dimana pada masa lalu 600 Buddha diperkirakan pernah dikirim ke Jamaika untuk menggarap perkebunan yang didirikan oleh Inggris, ketika Pangeran William dan Putri berkunjung pada Maret 2022 lalu Perdana Menteri sama Eka mengatakan kepada pasangan kerajaan tersebut bahwa negaranya ingin Merdeka sebelumnya.

Selusin demonstran berkumpul di luar kondisi tinggi Inggris di ibukota Jamaika dickinson menuntut pemerintah Inggris untuk membayar ganti rugi selamat pidato di kediaman Gubernur Jenderal yang mengungkapkan kesedihan mendalam untuk institusi perbudakan Ia juga menambahkan bahwa itu seharusnya tidak pernah ada namun Apakah ia mengucap Maaf sayangnya Jawabannya adalah tidak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *